Makalah Sosiologi Dakwah
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Setiap
masyarakat senantiasa mempunyai penghargaan tertentu terhadap hal-hal tertentu
dalam masyarakat yang bersangkutan. Kalau suatu masyarakat lebih menghargai
kekayaan material dari pada kehormatan, misalnya maka mereka yang mempunyai
kekayaan material akan material akan menempati kedudukan yang lebih tinggi.
Apabila dibandingkan dengan pihak lain. Gejala tersebut menimbulkan lapisan
masyarakat yang merupakan pembedaan seseorang atau sekelompok orang dalam
kedudukan yang berbeda secara vertikal.
Bahkan pada
zaman dahulu, filosof Aristoteles (Yunani) mangatakan didalam Negara terdapat 3
unsur yaitu mereka yang kaya sekali, yang melarat, Dan yang berada
ditengah-tengahnya. Pada zaman itu orang telah mengakui adanya lapisan masyarakat
yang mempunyai kedudukan bertingkat-tingkat dari bawah ke atlas. Sosiologi
pritim A Sorokin, pernah mengatakan bahwa system lapisan merupakan ciri yang
tetap Dan umum dalam setiap masyarakat.
Bentuk-bentuk
lapisan masyarakat berbeda-beda Dan banyak sekali. Lapisan-lapisan tersebut
tetap ada, sekalipun dalam masyarakat kapitalis, demokratis, komunistis Dan
lain sebagainya. Lapisan masyarakat tadi mulai ada sejak manusia mulai mengenal
adanya kehidupan bersamadidalamorgansisasisosial.
Bentuk control
lapisan masyarakat tersebut banyak, akan tetapi secara prinsipil bentuk-bentuk
tersebut dapat diklasifikasikan kedalam tiga macam kelas yaitu ekonomi,
politis, Dan yang didasarkan pada jabatan tertentu dalam masyarakat.[1]
Umumnya ketiga
bentuk pokok ini mempunyai hubungan yang erat satu dengan yang lainnya.
Misalkan mereka yang masuk dalam suatu lapisan atlas dasar politis, biasanya
juga merupakan orang-orang yang mendududki suatu lapisan tertentu atlas dasar
ekonomis. Hal itu semuanya tergantung pada system nilai yang berlaku serta
berkembang dalam masyarakat bersangkutan.
B.
RumusanMasalah
Dari apa yang telah disentil diatas maka saya
dapat menarik suatu langkah yaitu rumusan masalah:
1. Apas ebenarnya lapisan masyarakat itu?
1. Apas ebenarnya lapisan masyarakat itu?
2. Bagaimanasehinggaterjadinyalapisanmasyarakat?
3.
Apa peran lapisan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Terjadinya Lapisan Masyarakat
Stratifikasi
berasal dari bahasa latin “stratus” yang artinya lapisan/tingkatan. Di dalam
masyarakat terdapat sejumlah lapisan dengan jumlah yang berbedabeda. Hal itu
tidak lain karena di masyarakat terjadi perbedaan sosial. Seorang sosiolog
Pitiram A.osorkin, dalam bukunya yang berjudul social and cultural mobility
mngemukakan bahwa sistem berlapis-lapis tiu merupakan ciri yang tetap dan umum
dala, setiap masyarakat yang hidup teratur. Ia menyebut sistem berlapis-lapis
dalam masyarakat itu dengan istilah social stratification. Selanjutnya,
dikatakan bahwa social stratification adalah penggolongan penduduk atau
masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat dan wujudnya adalah
kelas-kelas tinggi dan kelas-kelas rendah.
Bahkan pada
zaman kuno dahulu, filosof Aristoteles (Yunani), mengatakan di dalam Negara ada
tiga unsur, yaitu mereka yang kaya sekali, yang melarat, dan yang berada
diantara keduanya.ucapan demikian sedikit banyak membuktikan bahwa pada zaman
itu, dan sebelumnyaorang telah mengakui adanya lapisan masyarakat yang
mempunyaikedudukan yang bertingkat-tingkat dari yang bawah sampai yang atas.
Barang siapa
yang memiliki sesuatu yang berharga dalam jumlah yang banyak, dianggap
masyarakat berkedudukan dikalngan atas. Mereka yang sedikit sekali atau bahkan
yang tidak sesuatu yang berharga dalm pandangan masyarakat mempunyai kedudukan
yang rendah. Di antara lapisan yang atasan dan rendah itu, ada lapisan
jumlahnya dapat ditentukan sendiri olah mereka yang hendak mempelajari system
lapisan masyarakat itu.
Biasanya
golongan lapisan masyarakat atas tifak hanya memiliki satu macam saja dari apa
yang dihargai oleh masyarakat, tetapi kedudukannya yang tinggi itu bersifat
komulatif. Mereka yang memilki uang banyak, akan mudah sekali mendapatkan
tanah, kekuasaan dan mungkin juga kehormatan, sedang mereka yang mempunyai
kekuasaan besar mudah menjadi kaya dan mengusahakan ilmu pengetahuan.System
lapisan dalam masyarakat tersebut, dalam sosiologi ddikenal dengan social
stratification. Kata stratification berasal dari stratum, jamaknya
strata yang berarti lapisan. Pitirim A. Sorokin menyatakan bahwa social
stratification adalah pembedaan penduduk atau masyarakat kedalam kelas yang
bertingkat-tingkat (hirarkis).
Perwujudannya
adalah kelas tinggi dan kelas yang lebih rendah. Selanjutnya menrut Sorokin,
dasar dan inti lapisan masyarakat tidak adanya keseimbangan dalam pembagian hak
dan kewajiban, kewajiban dan tangggung jawab nilai-nilai sosial dan pengaruhnya
diantara anggota-anggota masyarakt. Masyarakat yang berstratifikasi sering
dikiaskan dengan gambar sebuah limas yang berlapis-lapis. Lapisan bawah adalh
yang paling besar dan lapisan berikutnya menjadi lebih sempit. Terdapat
pendapat yang menyamakan antara lapisan dengan kelas.
B.
Sifat Sistm Lapisan Masyarakat
Sifat dari
sistem berlapis-lapisan dalam masyarakat ada yang tertutup dan ada yang
terbuka. Yang bersifat tertutup tidak memungkinkan pindahnya orang dan suatu
lapisan ke lapisan yang lain, baik gerak pindahnya ke atas atau ke bawah.
Keanggotaan dari lapisan tertutup diperoleh melalui kelahiran. Sistem lapisan
tertutup dapat dilihat pada masyarakat yang berkasta, masyarakat yang feodal,
atau masyarakat yang sistem pelapisannya bersifat terbuka, setiap anggota
mempunyai kesempatan buat berusaha dengan kecakapannya sendiri untuk naik
lapisan, atau kalau tidak beruntung, dapat jatuh kelapisan di bawahnya.
Sifat dan
system pelapisan sosial di dalam suatu masyarakat dibagi menjadi tiga bagian,
yaitu ada yang bersifat tertutup, ada yang bersifat terbuka, dan ada yang
bersifat campuran. Yang bersifat tertutup membatasi kemungkunan pindahnya
seseorang dari satu lapisan kelapisan yang lain. Baik yang merupakan gerak ke
atas atau bawah. Di dalam system yang demikian, satu-satunya jalan untuk
menjadi anggota suatu lapisan dalam masyarakat adalah kelahiran.Sebaliknya di
dalam system terbuka, setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk berusaha
dengan kecakapan sendiri untuk naik lapisan, atau, bagi mereka yang tidak
beruntung, untuk jatuh darilapisanataskelapisanbawahnya.[2]
Pada umumnya
system terbuka ini memberi perangsang yang lebih besar kepada setiap anggota
masyarakat untuk dijadikan landasan pembangunan masyarakat dari ada system yang
tertutup.System tertutup jelas terlihat pada masyarakat India yang berkasta.
Atau didalam masyarakat yang feodal, atau di dalam masyarakatnya yang mana
lapisannya tergantung pada perbedaan rasial. Apabila ditelaah pada masyarakat
India, system lapisan disana sangat kaku dan menjelma dalam diri kasta-kasta.
Kasta di India mempunyai ciri-ciri tertentu, yaitu:
1.
keanggotaan pada kasta diperoleh karena
kewarisan/kelahiran.
2.
Keanggotaan yang diwariskan itu berlaku seumur
hidup, oleh karena seseorang tak mungkin mengubah kedudukannya, kecuali dia
dikeluarkan dari kastanya.
3.
Perkawinan bersifat endogam, artinya harus
dipilih dari orang yang sekasta.
4.
Hubungan antara kelompok-kelompok sosial lain
sifatnya terbatas.
5.
Kesadaran pada keanggotaan suatu kasta yang
tertentu, terutama nyata dari nama kasta, identifikasi anggota pada kastanya,
penyesuaian diri yang ketat terhadap norma-norma kasta. Kasta diikat oleh
kedudukan yang secara tradisional telah ditetapkan.
C.
Kelas sebagai dimensi pelapisan sosial
Karl Marx
beranggapan, bahwa masyarakat dan kegiatan-kegiatannya pada dasarnya merupakan
alat-alat yang terorganisasi agar manusia dapat tetap hidup. Di sana kelas
merupakan kenyataan dalam masyarakat yang timbul dari sistem produksi, akibat
ada anggota yang memiliki tanah dan alat-alat produksi dan yang tidak mempunyai
serta hanya memiliki tenaga untuk disumbangkan dalam proses produksi.Istilah
kelas terkadang tidak selalu mempunyai arti yang sama. Ada kalanya yang
dimaksud dengan kelas ialah semua orang dan keluarga ynag sadar akan
kedudukannya di dalam suatu lapisan, sedangkan kedudkan mereka itu diketahui
serta diakui oleh masyarakat umum.
Pandangan lain
terhadap kelas-kelas ada yang menggunakan penilaian fungsional dan historis.
Terbentuknya kelas-kelas menurut aliran fungsional diperlukan untuk
menyesuaikan masyarakat dengan keperluan yang nyata dan gejalanya dimengerti
apabila diketahui riwayat terjadinya seperti dalam abad ke-19, yaituPada
awalnya manusia hidup berkelompok tanpa tatanan sosial tertentu. Setiap pribadi
merdeka dan sama derajat. Sarana produksi belum tercipta, sehingga penduduk
tidak terbagi-bagi atas dasar pemilikan keahlian.
usaha tani
berkembang, sumber daya terbatas sehingga menuntut hadirnya peralatan-peralatan
khusus yang pada gilirannya menciptakan kesempatan-kesempatan baru atas
penguasaan alat yang tidak setiap orang mampu memilikinya. Yang tidak mampu
membeli atau menyewa peralatan mesti bekerja keras atau bekerja bagi yang
memiliki. Secara mendasar manusia mulai terbagi, dan prinsip perbudakan mulai
merembes dan menggeser struktur dasar.perbudakan berkembang berubah kearah
prinsip-prinsip kuli kontrak. Orang yang dulunya budak pelan-pelan
bergeser statusnya mengikuti pergeseran pemilikan lahan. Meskipun mereka
merdeka, keterikatan pada lahan membuatnya tidak berdaya mengikuti kehendak
tuan-tuan tanah. Meski nyawa tetap di badan, namun bila tanah garapan dijual
dan tuan pemilik berganti, maka terbawa pula seluruh kuli yang ada di dalam
tata usaha pengolaan lahan itu.
Bentuk lapisan
masyarakat berbeda-beda dan banyak sekali. Lapisan-lapisan tersebut tetap ada,
sekalipun dalam masyarakat kapitalis, demokratis, komunistis, dan lain
sebagainya. Lapisan masyarakat tersebut mulai ada sejak manusia mengenal adanya
kehidupan bersama dalam satu organisasi sosial. Misalnya pada masyarakat yang
bertaraf kebudayaan masih bersahaja. Lapisan masyarakat mula-mula didasarkan
dari perbedaan seks, perbedaan anatara pemimpin dan yang dipimpin, golongan
buangan budak dan bukan buangan budak, pembagian kerja dan bahkan juga suatu
pembedaan berdasarkan kekayaan. Semakin rumit dan semakin maju teknologi
masyarakat, semakin kompleks pula system suatu masyarakat. Lapisan tersebut,
tidak hanya dijumpai pada masyarakat manusia tetapi juga pada masyarakat hewan
merayap, menyusui, dan lain sebagainya. Bahkan dikalangan hewan menyususi,
umpamanya kera, ada lapisan pimpinan dan yang dipimpin, ada pula perbedaan
pekerjaan yang didasarkan perbedaan seks. Demikian juga dikalangan dunia
tumbuh-tumbuhan. Dikenal ada tubuhanan parasitis, yang sanggup berdiri
sendiri.
Bentuk-bentuk
konkrit lapisan masyarakat tersebut banyak. Akan tetapi secara prinsipil bentuk
tersebut dapat diklasifikasikan ketiga macam kelas, yaitu yang ekonomis,
politis, dan yang didasarkan pada jabatan-jabatan trtentu dalam masyarakat.
Umumnya ketiga pokok tersebut mempunyai hubunyan erat satu dengan yang lainnya,
di mana terjadi saling pengaruh mempengaruhi. Misalnya, mereka yang masuk dalam
lapisan ats dasar ukuran politis, biasanya juga merupakan orang-orang yang
meduduki suatu lapisan tertentu atas dasar lapisan ekonomis. Demikian pula
mereka yang kaya biasanya menempati jabatn-jabatan yang senantiasa penting.
Akan tetapi, tidak semua demikian keadaanyan. Hal itu semuanya tergantung pada
system nilai yang berlaku serta berkembang dalam masyarakat bersangkutan.
Selain itu,
adapula masyarakat yang mendasarkan penilaian dan penentuan status sosial pada
pendidikan dan pemikiran tanah. Jadi kriteria sosial bagaimanapun bentuknya
berfungsi untk menilai dan menempatkan orang-orang atau grup dalm stratum, dalm
system hirarki masyarakat. Sehingga adanya beberapa system yang lahir dalam
stratifikasi masyarakatn yaitu:
1.
system kasta.
Istilah kasta
diambil dari kata Portugis “casta”, yang berarti keturunan atau ras.
Adapun di India istilah Varna berarti warna dipakai sebagai sinonim kata
tersebut. Lumberg menjelaskan bahwa kasta merupakan suatu kategori yang
anggotanya yang ditunjuk dan ditetapkan pada status yan permanen dalam hirarki
sosial yang diberikan serta perhubungannya dibatasi sesuai dengan statusnya.
System kasta ini merupakan bentuk yang paling kaku dan mempunyai garis batas
yang paling jelas dari bentuk stratifikasi sosial.
2.
System kelas.
Bertolak
belakang dengan system kasta yang kau dan tertutup, system kelas lebih
fleksibel dan membuka kemungkinan membuka gerak sosial. Oleh karena itu kelas
tidak terorganisoir dan juga tidadk tertutup atas dasar penentuan hukum atau
agama seperti yang terdapat dalam stratum dengan sistemnya yang kaku dan mudah
diidentifikasi. Kelas sosial bukan warisan keluarga, kelas sosial dapat dicapai
dan diubah sesuai dengan usaha dan prestasi seseorang walaupun besarnya
mobilitas seperti itu dari masyarakat ke masyarakat lainnya sangat bervariasi.
Adapun
stratifikasi sosial cenderung mengekalkan diferensiasi atau perbedaan peranan
dan status tersebut. Orang-orang melalui proses tertentu, ditetapkan (fixed)
dalam struktur masyarakat. Dalam beberapa kasus, peranan dan status berkembang
sangat tetap sehingga stratifikasi sosial yang mengindikasikan peranan dan
status itu sangat tertutup dan kaku. Dalam deferensiasi, strata yang dimiliki
seseorang dianggap taraf permulaan bagi terciptanya stratifikasi sosial, hal
itu tidak terjadi begitu saja, melainka melalui prosesyang panjang.
Awal mulanya
dengan membedakan seseorang dengan yang lain, dipilih dan dalam grup-grup dan selanjutnya perbedaan itu
cenderung menjadi tetap (fixed) dan terciptalah stratifikasi sosial itu dalam
masyarakat. Namun demikian, tidak ditafsir bahwa semua diferensiasi akan
mengarahkan kepada stratifikasi soosial. Sebab didalam masyarakat terdapat
kekuatan atau daya yang mendorong penghapusan perbedaan atau diskriminasi di
antara sesama musia. Humberg menjelaskan bahwa stratifikasi sosial merupakan
devinisi dari suatu populasi kedalam atau lebih lapisan dan setiap lapisan itu
relatif homogen.
D.
Dasar terjadinya lapisan masyarakat.
Lapisan-lapisan
sosial masyarakat atau stratifikasi sosial dalam masyarakat bisa terjadi,
dikarenakan tidak adanya keseimbangan dalam pembagian hak-hak dan kewajiban
serta bertanggung jawab diantara anggota-anggota masyarakat yang bersangkutan.
Sehingga muncul proses dimana kemunculan itu bisa dengan sendirinya dalam
proses pertumbuhan masyarakat itu sendiri. Kemudian lapisan masyarakat yang
munculnya disengaja yang disusun untuk mengejar suatu tujuan bersama. Dan yang
menjadi faktor utama munculnya lapisan sosial sengaja adalah kepandaian,
tingkat umur (yang senior), sifat keaslian keanggotaan kerabat seorang kepala
masyarakat.
Dilihat dari
prosesnya, stratifikasi sosial dalam masyarakat dapat terjadi dengan
sendirinya, tetapi juga terdapat unsur-unsur kesengajaan untuk dibuat
bertingkat-tingkat. Koencoroningrat mengemukakan bahwa sesuatu yang berharga
dapat dibedakan menjadi tujuh macam, yaitu:
1.
Kualitas atau kepandaian.
2.
Tingkat usia atau senioritas.
3.
Sifat keaslian.
4.
Keanggotaan kaum kerabat kepala masyarakat.
5.
Pengaruh dan kekuasaan.
Secara teorotis
semua manusia dapat dianggap sederajat. Akan tetapi sesuai dengan kenyataan
hidup kelompok-kelompok sosial, halnya tidaklah demikian.Pembedaan atas lapisan
merupakan gejala universal yang merupakan bagian system sosial setiap
masyarakat.
Untuk meneliti
terjadinya proses-proses lapisan masyarakat, dapatlah pokok-poko sebagai
berikut:
1.
sistem lapisan mungkin berpokok pada system
pertentangan dalam masyarakat. System demikian mempunyai arti yang khusus bagi
masyarakat tertentu yang menjadi objek penyelidika.
sistem lapisan
dapat dianalisis dalam ruang lingkup unsure-unsur sebagai berikut:
1.
distribusi hak-hak istimewa yang obyektif
seperti misalnya penghasilan, kekayaan, keselamatan (kesehatan laju angka
kejahatan), wewenang, dan sebagainya.
2.
sistem pertanggaan yang diciptakan para warga
masyarakat (prestise dan penghargaan).
3.
kriteria system pertentangan, yaitu apakah
didapat berdasarkan kualitas pribadi, keanggotaan kelompok kerabat tertentu,
milik, wewenang atau kekuasaan.
4.
lambang-lambang kedudukan, tingkah laku hidup,
cara berpakaian, perumahan, keanggotaan pada suatu organisasi dan selanjutnya.
5.
mudah atau sukarnya bertukar kedudukan.
6.
solidaritas diantara individu-individu atau
kelompok yang menduduki kedudukan yang sama dalam system sosial masyarakat.
Seperti telah
diuraikan ada pula system lapisan yang disengaja disusun untuk mengejar tujuan bersama.
Hal itu biasanya berkaitan dengan pembagian kekuasaan dan wewenag resmi dalam
organisasi formal, seperti pemerintah, perusahaan, partai politik, angkatan
bersenjata atau perkumpulan. Kekuasaan dan wewenang merupakan unsure-unsur
khusu dalam system lapisan.
Hubungan-hubungan
yang ada dalam masyarakat, merupakan hubungan antar peranan antar individu
dalam masyarakat. Peranan di atur oleh norma-norma yang berlaku. Misalnya,
norma kesopanan menghendaki agar seorang laki-laki bila berjalan bersama seorang
wanita harus disebelah luar. Peranan yang melekat pada diri seseorang harus
dibedakan dengan posisi dalam perrgaulan kemasyarakatan. Jadi, seseorang
menduduki suatu posisi dalam masyarakat serta menjalankan suatu peranan.
E.
Lapisan yang Sengaja Sisusun
Sistem kasta di
India telah ada sejak abad-abad yang lalu. Istilah untuk kasta dalam bahasa
India dinamakan yati; sedangkan sistemnya disebut varna.
Menurut kitab Rig-Veda dan kitab-kitab Brahmana, dalam masyarakat India
kuno dijumpai empat varna yang tersusun dari atas ke bawah. Masing-masing
adalah kasta Brahmana, Ksatria, Vaicya, Sudra. Kasta Brahmana merupakan kasta
para pendeta, yang dipandang sebagai lapisan tertinggi. Ksatria merupakan
kasta-kasta bangsawan dan tentara, dipandang sebagai lapisan yang kedua. Kasta
Vaicya merupakan kasta para pedagang yang dianggap sebagai lapisan yang
menengah (ketiga) dan Sudra adalah kasta orang-orang biasa (jelata).
Mereka yang tak
berkasta, adalah golongan Paria. Susunan kasta tersebut sangat kompleks dan
hingga kini masih dipertahankan dengan kuat, walaupun orang-orang India sendiri
kadangkala tidak mengakuinya. Sistem kasta semacam di India, juga
dijumpai di Amerika Serikat, dimana terdapat pemisahan yang tajam antara
golongan kulit putih dengan golongan kulit berwarna terutama oranr-orang Negro.
Sistem tersebut dikenal dengan segregation yang sebenarnya tidak berbeda
jauh dengan sistem apartheid yang memisahkan golongan kulit putih dengan
golongan asli di Uni Afrika Selatan.
Dan yang ketiga
adalah system lapisan yang campuran sehingga bisa memberikan kesempatanpada
seseoranguntuk melakukan perpindahan dari satu lapisan kelapisan lain, baik
gerak keatas maupun kebawah. Namun demikian itu dibirikan kepada blok-blok
tertentu. Seperti halnya untuk menjadi pejabat tertentu dipersyaratkan tentang
IQ seseorang tersebut. Akan tetapi, apabila suatu maysrakat hendak hidup dengan
teratur, maka kekuasaan dan wewenang yang ada harus dibagi dengan teratur pula.
Sehingga jelas bagi seseorang ditempat mana letaknya kekuasaan dan wewenang
dalam organisasi secara vertikal dan horizontal.[3]
F.
Perlunya Sistem Lapisan disusun
Apabila
kekuasaan dan wewenang tidak dibagi secara teratur, maka kemungkinan besar akan
terjadi pertentangan-pertentangan yang dapat membahayakan keutuhan-keutuhan masyarakat.
Dengan demikian mau tidak mau ada system lapisan masyarakat, karena
dengan adanya lapisan tersebut maka permasalahan dalam masyarakat dapat
diselesaikan, seperti halnya penempatan individu dalam tempat-tempat yang
tersedia dalam struktur sosial dan mendorong agar masyarakat bergerak susuai
dengan fungsinya.Karena tergantung pada bentuk dan kebutuhan masing-masing
masyarakat. Jelas bahwa kedudukan dan peranan yang dianggap tertinggi oleh
setiap masyarakat adalah kedudukan dan peranan yang dianggap terpenting serta
memerlukan kemampuan dan latihan-latihanyang maksimal.
Dengan demikian
masyarakat menghadapi dua persoalan, pertama menempatkan individu-individu
tersebut dan kedua mendorong agar mereka melaksanakan kewajibannya. Apabila
semua kewajiban selalu usai dengan keinginan si individu, dan sesuai pula
dengan kemampuan-kemampuannya dan seterusnya, maka persoalan tidak akan terlalu
sulit untuk dilaksanakan. Tetapi kemampuan dan latihan-latihan.
Beberapa
kriteria umum penentuan status dalam stratifikasi sosial, yaitu sebagai
berikut:
1.
kekayaan dalam berbagai bentuk yang diketahui
oleh masyarakat diukur dalam kuantitas atau dinyatakan secara kualitatif.
Standar kehidupan yang diperlihatkan serta sumber-sumber kekayaan secara
kualitatif. Standar kehidupan yang diperlihatkan serta sumber kekayaan secara
sosial bermakna untuk menentukan status dalam stratifikasi yang ada.
2.
daya guna fungsional orang-perorangan dalam hal
pekerjaan, misal sebagai eksekutif, guru, ilmuan, buruh biasa atau yang
terampil sangat menentukan dan memengaruhi status.
3.
keturunan menunjukkan reputasi keluarga,
lamanya berdiam di suatu tempat, latar belakang rasial atau etnis dan
kebangsaan.
4.
agama menunjukkan tingkat kesalehan
seseorang dalam menjalankan ajaran agamanya.[4]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari sitem
lapisan yang sudah kita jelaskan diatas bahwasannya lapisan sosial yang ada dalam kelompok masyarakat itu
bermacam-macam, ada yang terbuka, tertutup dan campuran, dari pada itu setiap
masyarakat yang mengiginkan kelancaran dalam hidup ditengah-tengah masyarakat
pasti. Selama dalam satu masyarakat ada sesuatu yang dihargai, dan setiap
masyarakat mempunyai sesuatu yang dihargainya, maka barang sesuatu itu akan
menjadi bibit yang dapat menumbuhkan system lapisan dalam masyarakat itu.
Barang sesuatu yang dihargai didalam masyarakat mungkin berupa uang atau
benda-benda yang bernilai ekonomis, mungkin juga berupa tanah, kekuasaan, ilmu
pengetahuan, kesalehan dalam agama, atau mungkin juga keturunan yang terhormat.
Adanya system
lapisan masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya (dalam proses pertumbuhan
masyarakat itu) tetapi ada pula dengan sengaja disusun untuk mengejar suatu
tujuan bersama.
B.
Saran
Bagi masyarakat
dalam menghadapi perubahan sosial dan perubahan kebudayaan terlebih harus
memfilter jika pengaruhnya dari luar, karena perubahan ini datang nya dari
budaya luar atau karena pengaruh teknologi yang nantinya bisa menghilangkan
kebudayaan kita sendiri. Dan memang perubahan sosial terjadi dengan cepat jika
kita tinggalnya di perkotaan dan lambat terjadinya yang tinggal dipedesaan.
DAFTAR PUSTAKA
Idi, Abdullah, Sosiologi
PendidikanIndividu, Masyarakat danPendidikan, Jakarta:PT Rajagrafindo Persada, 2011.
Martono, Nanang, Sosiologi
Perubahan SosialPerspektif Klasik, Modern.Posmodern dan Psokolonial, Jakarta:PT
Rajagrafindo Persada, 2011.
Ahmadi, Abu,Sosiologi
Pendidikan, Jakarta:PT
Rineka Cipta, 2007.
MAKALAH
SOSIOLOGI DAKWAH
“Lapisan-LapisanMasyarakat/StratifikasiSosial”
Oleh:
Teguh Purnomo Putra
Va
Dakwah/KPI
INSTITUT DIROSAT ISLAMIYAH AL-AMIEN
PRENDUAN
SUMENEP MADURA
Tahun Akademik: 2016-2017 M
Komentar
Posting Komentar